Titian Sastra E-SASTERA Ke Yogyakarta 2014 II (SISIM 2014)

SEMINAR INTERNASIONAL SASTRA INDONESIA-MALAYSIA (SISIM) 2014
“Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama”
Jogjakarta, 10 – 12 November 2014

TEMA: Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama.
TARIKH: Isnin 10 November – Rabu 12 November 2014.

PENGANJUR
• Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, Indonesia.
• Persatuan Aktivis e-Sastera, Malaysia (E-SASTERA).www.aktiviseSastera.com.
• Persatuan Editor, Malaysia (PEM).

PENGURUS ACARA
• Esastera Enterprise (eSe), Kuala Lumpur, Malaysia.www.eSasteraEnterprise.com
• Isastera Enterprise (iSe), Kuala Lumpur, Malaysia.
• E Sastra Management Enterprise (EsMe Indo), Jakarta, Indonesia.

YURAN PENYERTAAN (Untuk Peserta Malaysia)
Setiap peserta dikenakan yuran seminar seperti yang berikut:
• RM850 (bilik berdua) / RM990 (bilik seorang) [Tambah RM300 seorang untuk menyertai program tambahan lawatan pasca-seminar pada 12.11.2014 dan pulang ke tanah air pada 13.11.2014*]
Yuran merangkumi:
• kehadiran di seminar / kertas kerja
• kos darat (ground cost) di Jogjakarta
Bayaran yuran hendaklah dibuat kepada salah satu daripada akaun yang berikut:
• Esastera Enterprise, CIMB, Nombor akaun: 8000667484
• Isastera Enterprise, Maybank, Nombor akaun: 5648-0100-8889

HUBUNGI KAMI (Untuk Peserta Malaysia)
Untuk mendaftar sebagai peserta (tarikh tutup: 10.10.2014) atau untuk sebarang pertanyaan, sila hubungi:
• Esastera Enterprise (Puan Ilya; Telefon: 019-2550599)

LOGISTIK (Untuk Peserta Malaysia)
Pengangkutan (a) datang dari lapangan terbang ke hotel dan (b) pulang dari hotel ke lapangan terbang adalah disediakan untuk penerbangan-penerbangan yang berikut:
• Penerbangan pergi KL-Jogjakarta: Penerbangan AirAsia AK 346, 10.11.2014 @ 12.00 tengah hari.
• Penerbangan pulang Jogjakarta-KL: Penerbangan AirAsia AK349, 12.11.2014 @ 5.20PM

Bagi mereka yang ingin pergi lebih awal atau pulang lebih lewat, sila ambil penerbangan yang sesuai dengan keperluan sendiri tetapi pihak Urusetia Seminar tidak akan menguruskan logistik dan program di luar tempoh seminar. Namun kami sedia membantu dari segi tempoh tinggal di bilik hotel yang diduduki semasa tempoh seminar.

*PROGRAM TAMBAHAN: Lawatan Pasca-seminar
Bagi para peserta yang ingin tinggal sehingga 13.11.2014 di Jogjakarta, pengurus acara menyediakan program tambahan seperti yang berikut:

+13.11.2014 (Khamis): Lawatan sehari ke Goa Pindul dan Air Terjun Srigethuk.
+Bayaran tambahan: RM300.
+Perkhidmatan tambahan: Penginapan 12.11.2014, makan minum, dan pengangkutan sehingga ke Lapangan Terbang pada 13.11.2014.

………………………………………………….

TENTANG SEMINAR

Sebagai bangsa serumpun, dengan banyak persamaan budaya, terutama bahasa Melayu, Malaysia dan Indonesia memiliki ikatan batin yang erat. Dalam bidang sastera, hal ini tak bisa disangkal, tampak jelas adanya keterikatan itu.
Dalam perkembangannya selama satu dasawarsa (10 tahun) belakangan ini, hubungan budaya dua negara mengalami pasang-surut yang lebih banyak diwarnai oleh aspek politik.
Sastera, sebagai bahagian dari budaya suatu bangsa, memiliki peranan unik dalam hubungan dua serumpun itu. Meski perkembangan sastera yang ada tidak sama, sesuai dengan kondisi sosio-politik masing-masing negara, tapi tautan budaya tak bisa dielakkan. Karya beberapa sasterawan Indonesia sudah tak asing lagi di Malaysia, seperti WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, dan HAMKA. Beberapa karya lainnya dalam bentuk musik, filem, dan novel juga sudah dikenal oleh masyarakat Malaysia.
Bagaimana dengan karya sasterawan Malaysia, yang pada hakikatnya menunjukkan kemajuan bererti, bahkan pada aspek lain lebih baik dari sasterawan Indonesia? Kenyataan yang ada, karya sasterawan Malaysia belum banyak dikenal, meski perkembangannya pesat, sebut saja sastera siber atau e-sastra.

II. Milik Bersama
Salah satu upaya untuk meningkatkan hubungan dua bangsa adalah melalui karya sastera penulis Malaysia, yang dipasarkan di Indonesia, dengan terjemahan ke bahasa Indonesia. Langkah ini memang tak sekali gus akan mampu merangkul, dan lebih membuka mata masyarakat Indonesia akan kualiti penulis Malaysia. Namun, upaya ini jelas suatu terobosoan besar, yang akan memiliki dampak positif pada masa akan datang.
Tak hanya itu, langkah untuk menerobos pasar Indonesia juga memiliki makna besar, yakni menjadikan karya sastera sebagai milik bersama (sepunya).
Salah satu karya yang diharapkan mampu menjadi titian atau jambatan ke arah itu ialah novel “Meja 17” yang ditulis oleh Irwan Abu Bakar, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh eSMe (E Sastra Management Enterprise).
Hadirnya “Meja 17” ini mendapat sambutan bagus. Hal ini tampak dari tawaran sasterawan dan akademisi di Jogjakarta untuk mengundang si penulis dalam suatu aktiviti yang diberi tajuk “Seminar Sastera Indonesia – Malaysia: Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama”. Selain itu juga dari Rumah Budaya Tembi, Jogjakarta yang akan menampilkan sebahagian dari novel “Meja 17” dalam bentuk teaterikal.
Kedua-dua aktiviti itu diselenggarakan oleh eSastera Malaysia dan E Sastra Management Enterprise (EsMe) Indonesia, yang memiliki hubungan baik dengan FIB UGM dan Rumah Budaya Tembi.

III. Program

• DISKUSI NOVEL DI UGM. Majlis diskusi karya diselenggarakan (anjuran) oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (FIB UGM), sebuah fakultas yang sudah dikenal luas melahirkan akademisi terkemuka di bidang sastera, yang akan membahas novel Meja 17 dari aspek sosiologi sastera. Tampil sebagai pembahas ialah sasterawan terkenal Malaysia, Dr. Lim Swee Tin serta Prof. Dr. Faruk, dosen ahli sastera tentang Malaysia dari UGM.

• APRESIASI PUISI DAN TEATER DI RUMAH BUDAYA TEMBI. Majlis apresiasi sastera akan diselenggarakan oleh Rumah Budaya Tembi, sebuah tempat apresiasi budaya dan seni yang terkemuka di Yogyakarta. (a) Novel Meja 17 akan ditampilkan dalam bentuk teaterikal, mengambil cerita dari salah satu bab yang ada, oleh grup teater Yogyakarta. (b) Di samping itu, diadakan pelancaran buku puisi-dan-ulasan berjudul “Peneroka Malam” yang dihasilkan penulis Malaysia dan Indonesia diikuti acara baca puisi dari buku tersebut. (c) Acara di Rumah Budaya Tembi itu juga menampilkan pertemuan dua grup musik yang akan menampilkan lagu puisi, yakni Grup Lagu Puisi (GLP) dari E-SASTERA Malaysia dan grup dari Makassar, Sulawesi Selatan.

• APRESIASI SENDRATARI RAMAYANA DI CANDI PRAMBANAN. Sasterawan dan akademisi Malaysia akan menonton salah satu karya sastera yang sudah terkenal di dunia, yakni kisah dari Ramayana. Acara ini ditampilkan dalam bentuk tarian yang mengambil salah satu bahagian dari kisah tersebut, dimainkan di pelataran Candi Prambanan. Sendratari Ramayana, begitu disebut, sudah dikenal luas di dunia, dan pada Oktober 2012 mendapat penghargaan rekor dunia Guinness World Records sebagai pentas tari kolosal yang paling banyak melibatkan penari sekali gus paling lama dan rutin dimainkan, yakni sejak tahun 1961 hingga 2012. Aktor Charlie Chaplin yang pernah menyaksikan tarian ini pada 26 Agustus 1961 mengatakan, ”Bila dunia tahu akan Festival Ramayana ini, para pengunjung tentu akan datang berbondong-bondong ke Indonesia. Akan saya ceritakan kepada dunia, bahwa di Jawa Tengah terdapat kesenian yang mengagumkan yang membuat saya amat terkesan.”

• JELAJAH PUISI KE KAKI MERAPI DAN BOROBUDUR. Para peserta akan melakukan aktiviti menjelajah ke kaki gunung Merapi dan candi Borobudur untuk menggarap dan membaca puisi.

IV. Pemakalah
• Prof. Dr. Faruk Tripoli, S.U., Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, Indonesia.
• Dr. Lim Swee Tin, Kuala Lumpur, Malaysia.
• Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, Kuala Lumpur, Malaysia.

V. Peserta
Seminar ini adalah terbuka kepada semua peminat sastera Melayu, terutamanya:
• Penulis
• Ahli akademik
• Pelajar sastera peringkat siswazah dan pasca-siswazah
…………………………………………..

BUTIR-BUTIR PEMAKALAH

Prof. Dr. Faruk Tripoli, Indonesia
Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Februari 1957. Beliau adalah pakar di bidang ilmu budaya serta guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia merupakan pengajar Fakultas Ilmu Budaya yang secara resmi mendapatkan persetujuan dari Mendiknas sebagai profesor pada Jun 2008.
Pendidikan Prof. Faruk bermula di sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas ia selesaikan di kota kelahirannnya. Setelah lulus SMA, ia ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM, dan lulus tahun 1981. Tahun 1985 ia melanjutkan program S-2 di Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1988. Kemudian, melanjutkan program S-3 juga di Fakultas Pascasarjana UGM dan lulus tahun 1994.
Pengalamannya sebagai dosen dimulai dengan tugasnya sebagai asisten ahli madya di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 1983-1985. Pada tahun 1986 hingga sekarang, ia menjadi dosen di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM. Ia diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 2009.
Selain menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, Prof. Faruk juga pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korena Selatan (2007-2009) serta aktif melakukan penelitian (1998-2009). Prof. Faruk juga sering tampil sebagai pemakalah, narasumber, dan penanggap dalam kegiatan ilmiah, baik bahasa, sastra, maupun budaya.
Jabatan yang pernah diembannya pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2000-2001), Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2001-2003), pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2003-2005), dan Kepala Program Studi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM (2011-sekarang).

-Dr. Lim Swee Tin, Malaysia
Lahir di Kelantan, Malaysia pada tahun 1952, Dr. Lim mendapat latihan sebagai guru di Maktab Perguruan Persekutuan, Pulau Pinang, 1972-73. Selepas itu, bertugas sebagai guru di beberapa buah sekolah di Kelantan. Pada 1988-92, beliau melanjutkan pengajian di Universiti Pertanian Malaysia (UPM) bagi ijazah Sarjana Muda Pendidikan Pengajaran Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Pertama. Kemudiannya, meneruskan perkhidmatan sebagai guru di Negeri Sembilan dan Selangor. 1996-99, melanjutkan pelajaran bagi ijazah Sarjana Sastera Kesusasteraan Melayu dan 2000-05, meneruskan pengajian PhD Kesusasteran Melayu. Sejak Disember 2000 hingga 2012, beliau berkhidmat sebagai pensyarah di Fakulti Bahasa Moden Dan Komunikasi, UPM.
Dr. Lim melibatkan diri secara bersungguh-sungguh dalam lapangan kesusasteraan Melayu dengan menulis puisi, cerpen, novel, dan esei kritikan sastera serta turut mengendalikan kursus pemantapan bahasa Melayu dan penulisan kreatif kepada pelajar dan guru di Malaysia dan Singapura.
Pada tahun 2000, beliau dianugerahkan SEA Write Award oleh Kerajaan Diraja Thailand. Sebelum itu, beliau telah memenangi 25 hadiah kesusasteraan di Malaysia. Setakat ini, Dr. Lim telah menghasilkan kira-kira 60 buah buku kreatif dan nonkreatif secara perseorangan selain karya-karya ecerannya turut terkumpul dalam lebih 100 buah antologi bersama. Di sampng itu, beliau telah membentangkan ratusan kertas kerja, di dalam dan di luar negara.
Kini memegang jawatan dalam pelbagai organisasi sastera dan pendidikan milik pemerintah dan swasta, termasuk DBP, ASWARA, dan MASTERA serta menganggotai panel pemilih penerima SEA Write Award (Malaysia) dan Panel Hakim Hadiah Sastera Perdana (HSPM).

-Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, Malaysia
Lahir di Johor, Malaysia dan diberi nama Wan Abu Bakar. Beliau menulis puisi, cerpen, dan novel, terutamanya di alam siber. Kini Profesor di Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Beliau ialah pendiri (founder) portal e-Sastera.com yang beroperasi sejak Februari 2002 dan merupakan Presiden Persatuan Aktivis e-Sastera Malaysia (E-SASTERA). Beliau juga ialah penulis novel “Meja 17” dan penulis puisi-puisi dalam buku “Peneroka Malam” yang akan ditangani di SISIM 2014,

—————————————————-
*PROGRAM TAMBAHAN
SEMINAR INTERNASIONAL SASTRA INDONESIA-MALAYSIA (SISIM) 2014
“Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama”
Jogjakarta, 10 – 12 November 2014

BAGI para peserta yang ingin tinggal sehingga 13.11.2014 di Jogjakarta, pengurus acara menyediakan program tambahan seperti yang berikut:

+13.11.2014 (Khamis): Lawatan sehari ke Goa Pindul dan Air Terjun Srigethuk.
+Bayaran tambahan: RM300.
+Perkhidmatan tambahan: Penginapan 12.11.2014, makan minum, dan pengangkutan sehingga ke Lapangan Terbang pada 13.11.2014.

Pengumuman oleh:
Esastera Enterprise; E Sastra Management Enterprise (eSMe)
(Brosur dikemaskinikan pada: 4.10.2014)

SEMINAR INTERNASIONAL SASTERA INDONESIA-MALAYSIA (SISIM) 2014

SEMINAR INTERNASIONAL SASTERA INDONESIA-MALAYSIA (SISIM) 2014
“Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama”
Jogjakarta, 10 – 12 November 2014

TEMA: Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama.

TARIKH: Isnin 10 November – Rabu 12 November 2014.

PENGANJUR

• Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, Indonesia.
• Persatuan Aktivis e-Sastera, Malaysia (E-SASTERA).www.aktiviseSastera.com.
• Persatuan Editor, Malaysia (PEM) (Cadangan).

PENGURUS ACARA

• Esastera Enterprise (eSe), Kuala Lumpur, Malaysia.
• Isastera Enterprise (iSe), Kuala Lumpur, Malaysia.
• E Sastra Management Enterprise (EsMe Indo), Jakarta, Indonesia.

YURAN PENYERTAAN (Untuk Peserta Malaysia)

Setiap peserta dikenakan yuran seminar seperti yang berikut:
• RM850 (bilik berdua) / RM990 (bilik seorang)
Yuran merangkumi:
• kehadiran di seminar / kertas kerja
• kos darat (ground cost) di Jogjakarta
Bayaran yuran hendaklah dibuat kepada salah satu daripada akaun yang berikut:
• Esastera Enterprise, CIMB, Nombor akaun: 8000667484
• Isastera Enterprise, Maybank, Nombor akaun: 5648-0100-8889

HUBUNGI KAMI (Untuk Peserta Malaysia)

Untuk mendaftar sebagai peserta (tarikh tutup: 10.10.2014) atau untuk sebarang pertanyaan, sila hubungi:
• Esastera Enterprise (Puan Ilya; Telefon: 019-2550599)

LOGISTIK (Untuk Peserta Malaysia)

Pengangkutan (a) datang dari lapangan terbang ke hotel dan (b) pulang dari hotel ke lapangan terbang adalah disediakan untuk penerbangan-penerbangan yang berikut:
• Penerbangan pergi KL-Jogjakarta: Penerbangan AirAsia AK 346, 10.11.2014 @ 12.00 tengah hari.
• Penerbangan pulang Jogjakarta-KL: Penerbangan AirAsia AK349, 12.11.2014 @ 5.20PM
Bagi mereka yang ingin pergi lebih awal atau pulang lebih lewat, sila ambil penerbangan yang sesuai dengan keperluan sendiri tetapi pihak Urusetia Seminar tidak akan menguruskan logistik dan program di luar tempoh seminar. Namun kami sedia membantu dari segi tempoh tinggal di bilik hotel yang diduduki semasa tempoh seminar.
………………………………………………….

TENTANG SEMINAR

Sebagai bangsa serumpun, dengan banyak persamaan budaya, terutama bahasa Melayu, Malaysia dan Indonesia memiliki ikatan batin yang erat. Dalam bidang sastera, hal ini tak bisa disangkal, tampak jelas adanya keterikatan itu.
Dalam perkembangannya selama satu dasawarsa (10 tahun) belakangan ini, hubungan budaya dua negara mengalami pasang-surut yang lebih banyak diwarnai oleh aspek politik.
Sastera, sebagai bahagian dari budaya suatu bangsa, memiliki peranan unik dalam hubungan dua serumpun itu. Meski perkembangan sastera yang ada tidak sama, sesuai dengan kondisi sosio-politik masing-masing negara, tapi tautan budaya tak bisa dielakkan. Karya beberapa sasterawan Indonesia sudah tak asing lagi di Malaysia, seperti WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, dan HAMKA. Beberapa karya lainnya dalam bentuk musik, filem, dan novel juga sudah dikenal oleh masyarakat Malaysia.
Bagaimana dengan karya sasterawan Malaysia, yang pada hakikatnya menunjukkan kemajuan bererti, bahkan pada aspek lain lebih baik dari sasterawan Indonesia? Kenyataan yang ada, karya sasterawan Malaysia belum banyak dikenal, meski perkembangannya pesat, sebut saja sastera siber atau e-sastra.

II. Milik Bersama
Salah satu upaya untuk meningkatkan hubungan dua bangsa adalah melalui karya sastera penulis Malaysia, yang dipasarkan di Indonesia, dengan terjemahan ke bahasa Indonesia. Langkah ini memang tak sekali gus akan mampu merangkul, dan lebih membuka mata masyarakat Indonesia akan kualiti penulis Malaysia. Namun, upaya ini jelas suatu terobosoan besar, yang akan memiliki dampak positif pada masa akan datang.
Tak hanya itu, langkah untuk menerobos pasar Indonesia juga memiliki makna besar, yakni menjadikan karya sastera sebagai milik bersama (sepunya).
Salah satu karya yang diharapkan mampu menjadi titian atau jambatan ke arah itu ialah novel “Meja 17” yang ditulis oleh Irwan Abu Bakar, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh eSMe (E Sastra Management Enterprise).
Hadirnya “Meja 17” ini mendapat sambutan bagus. Hal ini tampak dari tawaran sasterawan dan akademisi di Jogjakarta untuk mengundang si penulis dalam suatu aktiviti yang diberi tajuk “Seminar Sastera Indonesia – Malaysia: Diskusi dan Apresiasi Karya Milik Bersama”. Selain itu juga dari Rumah Budaya Tembi, Jogjakarta yang akan menampilkan sebahagian dari novel “Meja 17” dalam bentuk teaterikal.
Kedua-dua aktiviti itu diselenggarakan oleh eSastera Malaysia dan E Sastra Management Enterprise (EsMe) Indonesia, yang memiliki hubungan baik dengan FIB UGM dan Rumah Budaya Tembi.

III. Program

• DISKUSI NOVEL DI UGM. Majlis diskusi karya diselenggarakan (anjuran) oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (FIB UGM), sebuah fakultas yang sudah dikenal luas melahirkan akademisi terkemuka di bidang sastera, yang akan membahas novel Meja 17 dari aspek sosiologi sastera. Tampil sebagai pembahas ialah sasterawan terkenal Malaysia, Dr. Lim Swee Tin serta Prof. Dr. Faruk, dosen ahli sastera tentang Malaysia dari UGM.

• APRESIASI PUISI DAN TEATER DI RUMAH BUDAYA TEMBI. Majlis apresiasi sastera akan diselenggarakan oleh Rumah Budaya Tembi, sebuah tempat apresiasi budaya dan seni yang terkemuka di Yogyakarta. (a) Novel Meja 17 akan ditampilkan dalam bentuk teaterikal, mengambil cerita dari salah satu bab yang ada, oleh grup teater Yogyakarta. (b) Di samping itu, diadakan pelancaran buku puisi-dan-ulasan berjudul “Peneroka Malam” yang dihasilkan penulis Malaysia dan Indonesia diikuti acara baca puisi dari buku tersebut. (c) Acara di Rumah Budaya Tembi itu juga menampilkan pertemuan dua grup musik yang akan menampilkan lagu puisi, yakni Grup Lagu Puisi (GLP) dari E-SASTERA Malaysia dan grup dari Makassar, Sulawesi Selatan.

• APRESIASI SENDRATARI RAMAYANA DI CANDI PRAMBANAN. Sasterawan dan akademisi Malaysia akan menonton salah satu karya sastera yang sudah terkenal di dunia, yakni kisah dari Ramayana. Acara ini ditampilkan dalam bentuk tarian yang mengambil salah satu bahagian dari kisah tersebut, dimainkan di pelataran Candi Prambanan. Sendratari Ramayana, begitu disebut, sudah dikenal luas di dunia, dan pada Oktober 2012 mendapat penghargaan rekor dunia Guinness World Records sebagai pentas tari kolosal yang paling banyak melibatkan penari sekali gus paling lama dan rutin dimainkan, yakni sejak tahun 1961 hingga 2012. Aktor Charlie Chaplin yang pernah menyaksikan tarian ini pada 26 Agustus 1961 mengatakan, ”Bila dunia tahu akan Festival Ramayana ini, para pengunjung tentu akan datang berbondong-bondong ke Indonesia. Akan saya ceritakan kepada dunia, bahwa di Jawa Tengah terdapat kesenian yang mengagumkan yang membuat saya amat terkesan.”

• JELAJAH PUISI KE KAKI MERAPI DAN BOROBUDUR. Para peserta akan melakukan aktiviti menjelajah ke kaki gunung Merapi dan candi Borobudur untuk menggarap dan membaca puisi.

IV. Pemakalah
• Prof. Dr. Faruk Tripoli, S.U., Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, Indonesia.
• Dr. Lim Swee Tin, Kuala Lumpur, Malaysia.

V. Peserta
Seminar ini adalah terbuka kepada semua peminat sastera Melayu, terutamanya:
• Penulis
• Ahli akademik
• Pelajar sastera peringkat siswazah dan pasca-siswazah

…………………………………………..

BUTIR-BUTIR PEMAKALAH

-Prof. Dr. Faruk Tripoli, Indonesia
Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Februari 1957. Beliau adalah pakar di bidang ilmu budaya serta guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia merupakan pengajar Fakultas Ilmu Budaya yang secara resmi mendapatkan persetujuan dari Mendiknas sebagai profesor pada Jun 2008.
Pendidikan Prof. Faruk bermula di sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas ia selesaikan di kota kelahirannnya. Setelah lulus SMA, ia ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM, dan lulus tahun 1981. Tahun 1985 ia melanjutkan program S-2 di Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1988. Kemudian, melanjutkan program S-3 juga di Fakultas Pascasarjana UGM dan lulus tahun 1994.
Pengalamannya sebagai dosen dimulai dengan tugasnya sebagai asisten ahli madya di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 1983-1985. Pada tahun 1986 hingga sekarang, ia menjadi dosen di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM. Ia diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 2009.
Selain menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, Prof. Faruk juga pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korena Selatan (2007-2009) serta aktif melakukan penelitian (1998-2009). Prof. Faruk juga sering tampil sebagai pemakalah, narasumber, dan penanggap dalam kegiatan ilmiah, baik bahasa, sastra, maupun budaya.
Jabatan yang pernah diembannya pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2000-2001), Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2001-2003), pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2003-2005), dan Kepala Program Studi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM (2011-sekarang).

-Dr. Lim Swee Tin, Malaysia
Lahir di Kelantan, Malaysia pada tahun 1952, Dr. Lim mendapat latihan sebagai guru di Maktab Perguruan Persekutuan, Pulau Pinang, 1972-73. Selepas itu, bertugas sebagai guru di beberapa buah sekolah di Kelantan. Pada 1988-92, beliau melanjutkan pengajian di Universiti Pertanian Malaysia (UPM) bagi ijazah Sarjana Muda Pendidikan Pengajaran Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Pertama. Kemudiannya, meneruskan perkhidmatan sebagai guru di Negeri Sembilan dan Selangor. 1996-99, melanjutkan pelajaran bagi ijazah Sarjana Sastera Kesusasteraan Melayu dan 2000-05, meneruskan pengajian PhD Kesusasteran Melayu. Sejak Disember 2000, beliau berkhidmat sebagai pensyarah di Fakulti Bahasa Moden Dan Komunikasi, UPM.
Dr. Lim melibatkan diri secara bersungguh-sungguh dalam lapangan kesusasteraan Melayu dengan menulis puisi, cerpen, novel, dan esei kritikan sastera serta turut mengendalikan kursus pemantapan bahasa Melayu dan penulisan kreatif kepada pelajar dan guru di Malaysia dan Singapura.
Pada tahun 2000, beliau dianugerahkan SEA Write Award oleh Kerajaan Diraja Thailand. Sebelum itu, beliau telah memenangi 25 hadiah kesusasteraan di Malaysia. Setakat ini, Dr. Lim telah menghasilkan kira-kira 60 buah buku kreatif dan nonkreatif secara perseorangan selain karya-karya ecerannya turut terkumpul dalam lebih 100 buah antologi bersama. Di sampng itu, beliau telah membentangkan ratusan kertas kerja, di dalam dan di luar negara.
Kini memegang jawatan dalam pelbagai organisasi sastera dan pendidikan milik pemerintah dan swasta, termasuk DBP, ASWARA, dan MASTERA serta menganggotai panel pemilih penerima SEA Write Award (Malaysia) dan Panel Hakim Hadiah Sastera Perdana (HSPM).

(Brosur dikemaskinikan pada: 24.9.2014)

SASTERA MELAYU DALAM MEDIA SOSIAL

Wacana Kesusasteraan Melayu Dalam Era Teknologi Maklumat
Kota Bharu, Kelantan, 6 Oktober 2013

SASTERA MELAYU DALAM MEDIA SOSIAL

Oleh:

  1. Dr. Ir. Wan Abu Bakar Wan Abas1 dan Madiawati Mustaffa2

1Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya, Kuala Lumpur; Pengasas portal E-Sastera.com; dan Presiden, Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA)

2Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur

Sastera merupakan wadah penyampaian masyarakat yang tinggi dengan nilai estetika serta dapat dimanfaatkan oleh khalayak. Perkembangan sastera Melayu berubah mengikut zaman, iaitu dari tradisi lisan, ke tulisan, dan seterusnya dalam bentuk media baharu dengan kecanggihan teknologinya. Hal ini merupakan perkembangan yang positif kerana hasil kreativiti pengarang dapat disampaikan kepada khalayaknya dalam pelbagai variasi dan penyebarannya tanpa sempadan. Sesiapa dan di mana sahaja kita dapat mengakses hasil sastera sama ada menikmatinya atau berkarya melalui media baharu. Salah satu platform yang paling popular ialah platform media sosial yang diminati ramai kerana sifatnya yang mudah untuk menyampaikan serta berinteraksi terhadap maklumat yang dikemukakan. Sehubung dengan hal itu, bidang sastera juga tidak terlepas menerima tempias ledakan teknologi maklumat ini. Media sosial juga dijadikan salah satu aktiviti untuk menyalurkan maklumat berkenaan dengan karya sastera.

 

BLOG DAN VLOG

Kegiatan media sosial terawal muncul dalam bentuk “blog” (ringkasan untuk weblog). Kegiatan memblog (menulis blog) amat popular sekitar tahun 2000. Beberapa templat laman blog awam juga telah menjadi begitu popular, misalnya blogspot.com dan wordpress.com. Beberapa nama individu dan kumpulan blogger telah menonjol pada masa itu. “Geng Jurnal” ialah salah sebuah kumpulan blogger yang popular pada masa itu.

            Vlog (Video-blog) mempunyai fungsi yang sama degnan blog tetapi menggunakan platform YouTube, dengan input berbentuk video sahaja (lihat di bawah). Vlog terus bertahan sehingga ke hari ini kerana kecanggihan sistem YouTube itu sendiri. Vlogger berbahasa Melayu paling popular barangkali ialah Mat Luthfi, yang memulakan kegiatan itu semasa dia seorang pelajar kejuruteraan di Australia. Ada juga pengkarya yang menjadi popular sebagai vlogger disebabkan kontroversi video yang dihasilkan, misalnya pasangan muda Alvin Tan dan Vivian Lee.

 

FACEBOOK

Facebook merupakan antara media sosial yang popular yang awalnya berfungsi untuk menghubungkan seseorang individu dengan individu yang lain. Fungsi media sosial ini kemudiannya telah dipertingkatkan dengan penambahan ciri-ciri terbaharu dengan adanya ruangan sembang yang membolehkan pengguna mengemaskinikan status, menghantar mesej, dan memaparkan gambar atau video. Menurut Ritcher & Koch (2008), fungsi laman sosial adalah untuk mengurus identiti (identity management), mencari pakar (expert finding), menyedari konteks (context awareness), mengurus kenalan (contact management), dan bertukar-tukar maklumat (exchange of information).

Laman facebook yang biasa digunakan oleh bidang sastera terdiri daripada tiga bentuk, iaitu bentuk individu, laman pages, dan bentuk kumpulan (groups). Ketiga-tiga bentuk berkenaan mempunyai fungsi dan peranannya yang tersendiri dalam memperkembangkan sastera Melayu di laman sesawang.

            Facebook yang berkonsepkan individu dan laman pages biasanya dimiliki oleh penulis sebagai platform untuk menghubungkan karya serta aktiviti mereka dengan peminat. Akaun facebook jenis individu hanya terhad kepada 5 ribu orang sahabat (friend) sahaja, berbeza dengan akaun pages yang membolehkan peminat menekan butang likes yang menjangkau jumlah yang lebih besar.

            Facebook yang berbentuk ini lebih merupakan interaksi antara penulis dengan peminat sahaja. Biasanya penulis akan mengemaskinikan aktiviti, karya terbaharu dan mengadakan resensi karya-karyanya. Selain itu juga, facebook jenis ini cenderung kepada aktiviti peribadi penulis sama ada dalam hal-hal berkaitan dengan karya sastera atau kehidupan peribadi mereka. Misalnya laman facebook pemuisi negara Zurinah Hassan, selain memuatkan karya-karya puisinya, beliau juga berkongsi aktiviti-aktiviti sasteranya sama ada di dalam mahupun luar negara.

            Antara penulis novel yang aktif berinteraksi dengan peminatnya adalah Ain Maisarah. Beliau membuka akaun pages facebook dengan nama AinMaisarah Novelis yang sehingga kini mencecah kira-kira 194,493 likes daripada peminatnya. Selain berkongsi aktiviti sasteranya, beliau juga berkongsi tips menulis karya kreatif bersama peminatnya. Interaksi antara penulis dan peminatnya dapat mewujudkan hubungan yang positif dalam menarik minat khalayak untuk mendekati karya sastera.

            Berbeza pula dengan laman facebook yang jenis kumpulan (group). Laman ini diwujudkan supaya pengkarya serta peminat sastera dapat berkarya serta bertukar-tukar pandangan berkenaan karya yang dimuat naik dalam group berkenaan. Genre puisi seperti pantun dan sajak banyak dimuat naik dalam group tersebut. Antara group sastera yang popular dengan karya puisi ialah Kopi Sastera, Penyair Malaysia, Indonesia, Brunei dan Patani, Lagu-Lagu Puisi Nusantara, Sastera dan Budaya, serta Sastera Melayu. Group ini bukan sahaja memaparkan karya puisi secara bertulis malahan juga terdapat puisi-puisi yang disertai dengan gambar, bunyi dan animasi yang sesuai bagi menarik perhatian serta memberi lebih kesan penghayatan kepada khalayak. Lebih menariknya karya-karya yang dimuat naik dalam medium laman sosial ini akan mendapat maklum balas yang cepat daripada khalayaknya. Walaupun kebanyakan groups Facebook melibatkan pelbagai genre puisi, ada juga yang menangani cerpen, misalnya Grup Himpunan Pencinta Cerpen dan Puisi (HPCP) Kakilangit. Di samping itu, ada juga yang menangani novel, misalnya Multimedia Fiction.

 

YOUTUBE

Youtube ialah platform milik Google, untuk memuatnaikkan video dan dikongsi bersama tontonannya. Kebanyakan video di dalamnya dimuatnaikkan oleh individu. Video boleh ditonton oleh sesiapa sahaja tanpa keperluan mendaftar, malah kemudahan disediakan oleh portal itu untuk memasukkan videonya ke mana-mana laman web lain. Pengguna berdaftar boleh memuatnaikkan seberapa banyak video yang dikehendaki.

 

TWITTER

Twitter dikenali sebagai media sosial mobil kerana digunakan bersama dengan peranti mobil (telefon bimbit). Ia merupakan satu lagi medium yang digunakan khalayak untuk berkarya dan berinteraksi. Twitter menawarkan perkhidmatan perangkaian sosial pada talian dan mikropemblogan yang memberi keupayaan kepada pengguna untuk membaca “tweets”, yang merupakan teks tidak lebih daripada 140 aksara. Pada hari ini, Twitter diterima secara meluas sebagai alat bekomunikasi dan juga berkarya, dengan syarat angka 140 akasra dipatuhi. Tweep (pengguna Twitter) Ajami Hashim telah membukukan 500 buah twit (kandungan atau mesej Twitter) yang disiarkannya (ditwitnya) di akaun Twitter peribadinya melalui hashtag #cerpentwitter.

 

RESPONS E-SASTERA

Kumpulan eSastera Malaysia telah bergiat dalam bidang sastera di internet sejak 2002. Dalam memajukan perkembangan sastera Melayu di internet, eSastera terus berpegang kepada dua falsafah yang berikut:

  • Bentuk persembahan karya hendaklah sesuai dengan medium/teknologi yang digunakan.
  • Kemantapan kandungan portal senantiasa diutamakan, dengan mengehadkan keupayaan pengguna untuk mengedit atau memadam karya yang telah disiarkan.

Dalam pembentangan ini, penulis akan memperincikan secara visual cara eSastera memberi respons dan memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut, seperti yang berikut:

  • Mengemaskinikan portalnya e-sastera.com, terutamanya dengan memasukkan unsur “Dinding” (melibatkan penulisan blog dalam bentuk status atau nota dinding). Portal seperti ini mampu menyiarkan karya sastera berbentuk multi-media dan interaktif, termasuk dalam format flash dan video. Contoh bagi karya bukan-video ialah cerpen scifi “Rewang Minda” oleh Irwan Abu Bakar (tersiar di portal e-Sastera.com, seksyen Sastera Sains, kategori Cereka) dan novel “Penjelajah Mimpi” oleh Rosnidar Ain (yang dapat diakses di URL http://rumah.ws/penjelajahmimpi.exe).
  • Memodenkan sistem paparan karya dan memperkenalkan unsur interaktif (respons berbentuk komen) di televisyen webnya, eSastera.tv. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan video YouTube serta memberi keupayaan kepada pengguna untuk memuatnaikkan video masing-masing dan mengulas video-video yang tersiar di situ. Pada masa ini, tivi ini mempunyai 8 saluran, iaitu 1.Terkini, 2.Peristiwa, 3.E-Puisi, 4.Deklamasi, 5.Lagu Puisi, 6.Cereka (Cerpen, Drama, Filem, dan Novel), 7.Wawancara, dan 8.Vlog. Saluran 9 masih dirancang kandungannya. Saluran “Vlog” sengaja diperkenalkan demi mengembalikan kegemilangan kegiatan memblog dalam kalangan khalayak sastera.  
  • Memperkenalkan platform sastera twitter, @tSastera. Karya yang ditwit oleh penulis kepada @tSastera akan ditwit kepada follower @tSastera dengan menggunakan label @tSastera. Antara genre yanga ditangani oleh @tSastera termasuklah #tBerita, #tCerpen, #tPantun, #tSajak, dan #Sayembara. Contoh karya di @tSastera:

 

#tSajak DUKA RAYA. Takbir bergema, ingatan bergetar, ke waktu bersama. Yang sudah tiada. -Irwan Abu Bakar.

#tCERPEN UNDI. Dia pangkah kertas undi. Dilipat dan dimasuk ke peti. Siap tugas, bisiknya. Dipejamnya mata lalu ghaib. Grr… Pengundi hantu

RUJUKAN

Ajaminhashim, cerpentwitter, Petaling Jaya: Merpati Jingga, 2012. Cetakan kedua.

Ritcher, A. & Koch, M. (2008). Functions of Social Networking services. COOP’08: the 8th International.

E-PUISI: PEMBANGUNAN DAN CABARAN

E-PUISI: PEMBANGUNAN DAN CABARAN

Oleh:

  1. Dr. Ir. Wan Abu Bakar Wan Abas1, Madiawati Mustaffa2, dan Mohd Hafizie bin Samat3

1Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya, Kuala Lumpur; Pengasas portal E-Sastera.com; dan Presiden, Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA)

2Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur

3Ketua, Grup E-Sastera Universiti Malaya (GESUM)

 

  1. PENGENALAN

Kegiatan berpuisi di alam siber telah berlaku di seluruh dunia untuk sekian lama, terutamanya dalam genre puisi.Laman paling popular sehingga ke hari ini barangkali ialah Poetry.com(berbahasa Inggeris). Kegiatan sedemikian diformalkan secara serius dalam bahasa Melayu di Malaysia apabila terbitnya portal sastera awam, iaitu eSastera.com (kini E-Sastera.com) yang diusahakan melalui syarikat Esastera Enterprise (mulanya KAPAS Enterprise). Malah portal sastera ini, pada mulanya, hanya menyediakan kemudahan untuk pelayar menerbitkan karya daripada genre sajak dan sajak jenaka (sajen) sahaja.

 

  1. KARYA SIBER DAN E-PUISI

Medium utama untuk menyiarkan e-puisi ialah internet. Internet memungkinkan pembangunan portal berupa laman sastera yang dapat dijadikan pusat untuk semua pengkarya menunjukkan bakat mereka di alam siber. Tanpa internet, dunia sastera siber, seperti laman e-puisi, tidak dapat dibangunkan.

 

E-puisi merupakan puisi era teknologi yang turut dikenali sebagai puisi siber ataupun puisi elektronik. Seiring dengan perkembangan dunia sains dan teknologi, misalnya penggunaan internet, perkembangan puisi yang dahulunya dari tradisi lisan, ke tulisan (cetakan kertas biasa atau secara cetakan konvensional), dan akhirnya dipindahkan ke laman internet. Karya e-puisi tidaklah diterbitkan dalam laman internet hanya berdasarkan tulisan hitam berlatarbelakangkan warna putih semata-mata, malah lebih daripada itu, merupakan gabungan pelbagai unsur multimedia seperti teks, audio, video, animasi, grafik, dan hiperlink yang tertentu untuk menyampaikan pemikiran dan emosi penyair. Dengan penggunaan unsur multimedia, puisi tersebut berbeza dengan puisi cetakan konvensional. Puisi sebegini hanya dapat diapresiasi sepenuhnya di internet sahaja, malah ada yang tidak dapat diapresiasi langsung tanpa menggunakan medium internet. Selain itu, sering dikatakan bahawa, sekiranya sesebuah karya di internet itu dapat diterbitkan sepenuhnya ke bentuk cetakan konvensional, maka besar kemungkinannya bahawa karya itu bukannya e-karya yang sebenar.

 

Keistimewaan e-puisi berbanding dengan puisi konvensional terlihat melalui penggunaan kecanggihan teknologi itu sendiri. Manfaat daripada kemudahan teknologi, misalnya internet, menjadikan pengkarya atau pembaca mudah untuk berkarya dan membaca karya tersebut walau di mana mereka berada. Misalnya, jika pengkarya berada jauh di hujung dunia sekalipun, dia dapat meneliti karya hanya dengan membuka laman internet, termasuk menggunakan sebuah telefon bimbit pintar.

 

Di samping teks puisinya yang menarik, terdapat pula ciri-ciri estetika lain yang dapat dihayati melalui penggunaan unsur multimedia, misalnya imej yang diselitkan bersama puisi tersebut disertai dengan iringan muzik yang mendamaikan dan menenangkan jiwa. Oleh itu, pembaca tidak mudah berasa bosan, sebaliknya seronok untuk menghayati sesebuah karya tersebut.

 

Keistimewaan lain e-puisi ialah karya puisi yang disiarkan itu dapat disiarkan dengan cepat dan mudah, tidak perlu menunggu lama untuk dicetak dahulu seperti puisi cetakan konvensional. Para pengkarya dapat menerbitkan sendiri karya puisi mereka tanpa perlu diedit oleh orang lain serta puisi mereka dapat dibaca oleh semua orang di seluruh dunia asalkan mempunyai kemudahan internet.

 

Penerbitan pusi di internet juga sering memanfaatkan ciri interaktiviti di medium internet itu sendiri. Puisi yang diterbitkan dapat dikomen pembaca dengan dengan cepat. Hal ini dapat menimbulkan semangat penulis dalam membaiki ciptaannya pada masa akan datang berdasarkan komen atau kritikan membina yang diberikan oleh pembaca karya e-puisi di laman siber. Tradisi yang sedemikian tidak mungkin dapat diperkenalkan di medium penerbitan konvensional.

 

 

  1. CABARAN

 

Masalah yang berkaitan dengan aktiviti mengkomposisi dan menyiarkan e-puisi yang ketara ialah melibatkan kemudahan internet itu sendiri. Hal ini kerana tidak semua orang mempunyai kemudahan internet di rumah. Jika ada pun, mungkin melibatkan kos penyelenggaraan yang tinggi. Jika ada yang percuma sekalipun, mungkin menghadapi masalah internet yang lembab. Keadaan seperti ini menjadikan pengkarya yang ingin menerbitkan karya di laman tersebut tidak bersemangat dan kurang keyakinan bukan kerana takut berkongsi tetapi takut terjadinya apa-apa masalah yang tidak dijangka, lebih-lebih lagi bagi pengkarya yang baru. Masalah ini menyebabkan mereka suka menghasilkan karya berdasarkan cetakan konvensional sahaja walaupun mengambil masa yang lama untuk diterbitkan. Selain itu, tidak semua orang mempunyai pengetahuan asas tentang internet serta kemahiran untuk memasukkan unsur-unsur multimedia ke dalam karya mereka. Sehubungan itu, kekurangan pengetahuan tentang hal-hal berkaitan penyiaran unsur-unsur siber dan multimedia menyebabkan pengkarya kurang senang dengan aktiviti mengkomposisi dan menyiarkan e-puisi yang dianggap leceh, padahal jika mengetahuinya, pasti menjadi sesuatu yang paling senang berbanding dengan puisi cetakan konvensional.

 

E-puisi dapat meningkatkan lagi perkembangan dunia sastera di negara kita, malah juga di seluruh dunia. Dengan bertambahnya laman internet berkaitan dengan sastera, ramai pengkarya atau peminat sastera akan suka dan tertarik untuk menceburkan diri dalam dunia sastera dengan lebih serius. Mereka akan diperkenalkan dengan ciptaan puisi yang baru berbeza dengan puisi cetakan konvensional yang sebelumnya. Dengan wujudnya e-puisi, dunia sastera semakin berkembang dengan penciptaan baru. Lebih banyak pengkarya di alam siber akan menonjolkan diri dengan menerbit dan menghantar karya mereka. Akhirnya, pengkarya tersebut akan menjadi pemuisi terkenal.

 

Kegiatan e-puisi dapat dikembangkan lagi di Malaysia dengan membangunkan lebih banyak laman internet yang berkaitan. Dengan wujudnya lebih banyak laman internet berkaitan dengan sastera, maka seluruh peminat sastera atau pengkarya dapat melihat sendiri fungsi laman tersebut, khususnya dalam mengembangkan penciptaan e-puisi. Dengan itu, e-puisi dapat direalisasikan bukan hanya sekadar cakap kosong sahaja berdasarkan penggunaan teori semata-mata. Dengan wujudnya laman sastera, semua orang yang berminat dan mampu berkarya dapat praktikkan penulisan e-puisi dengan mudah. Selain itu, kegiatan pengenalan atau promosi perlu diwujudkan di seluruh Malaysia. Tumpuan utamanya haruslah berpusatkan kepada organisasi atau institusi tertentu yang mempunyai kaitan dengan sastera. Dengan ini, e-puisi dapat diperluaskan lagi ke seluruh Malaysia disebabkan penggunanya yang semakin ramai dan memberangsangkan. Di samping itu, kursus-kursus berkaitan dengan e-puisi atau sastera siber perlu diperkenalkan. Misalnya seperti kursus E-Sastera di Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya itu sendiri perlu diteruskan lagi pada masa akan datang bukan hanya melibatkan sarjana Pengajian Melayu, malah seluruh fakulti dan peringkat pengajian di semua IPTA/IPTS.

 

Pada hari ini, ramai juga penulis yang menyiarkan karya e-puisi mereka di laman web masing-masing. Hal ini tidak dapat menghasilkan koleksi karya yang berintegriti daripada segi kemantapan kandungan penerbitan itu. Pengkarya dapat mengedit mahupun memadam karyanya. Malah ada pengkarya yang mengedit mahupun memadam komen orang lain terhadap karyanya itu. Kita harus menggalakkan penulis menyiarkan karya masing-masing di portal sastera awam yang menjamin kemantapan kandungan. Misalnya, portal E-Sastera.com hanya memberi masa 45 minit untuk pengkarya mengedit karya masing-masing dan tidak menyediakan fasiliti untuk pengkarya memadam karyanya. Di samping itu, portal tersebut juga menyediakan sistem penarafan lima bintang untuk pengurus (Administrator) memberikan tanggapannya terhadap karya. Pembaca juga dapat memberikan respons melalui butang SUKA, di samping penggunaan kotak komen yang biasa.

 

Cabaran terhadap e-puisi bukan sahaja pada kaedah penyiarannya. Pada peringkat karya itu sendiri, ada beberapa cabaran yang masih belum dapat diatasi dengan baik, antaranya seperti yang berikut:

 

  • Memasukkan unsur siber sebagai hiasan semata-mata: Unsur siber hendaklah dimasukkan dengan peranan istimewa dalam menegaskan peluahan pemikiran dan emosi.
  • Pengkarya mengkomposisi karyanya dengan menggunakan unsur-unsur siber yang bukan miliknya tetapi dipetik dari internet: Walaupun terdapat banyak unsur siber yang tidak mempunyai hak cipta dan boleh dipetik untuk mengkayakan karya kita, adalah lebih elok sekiranya semua unsur dalam karya itu adalah ciptaan dan milik pengkarya sendiri. Hal ini dapat dicapai dengan lebih mudah sekiranya pengkarya berkongsi karya, misalnya teks, imej, dan audio dicipta oleh pengkarya yang berlainan tetapi diintegrasikan dalam sebuah karya milik bersama (seperti sebuah lagu yang berlainan pencipta melodi, penulis lirik, dan penyanyinya).

 

Satu lagi cabaran yang harus disahut pada hari ini ialah penerbitan antologi e-puisi, misalnya dalam bentuk e-buku. Portal seperti e-Sastera.com, misalnya, menyediakan kemudahan untuk penulis menerbitkan e-antologi masing-masing namun belum ramai pengkarya yang mengambil peluang itu.

 

Pada hari ini, belum ramai ilmuan sastera yang serius mendalami karya di alam siber untuk mengkaji dengan mendalam ciri-ciri keistimewaan genre ini. Dengan ini, banyak peluang untuk para pengkaji sastera menerbitkan teori-teori sastera yang berkaitan dengan e-puisi.

 

  1. PENUTUP

Kemudahan internet sudah berada dalam masyarakat secara yang agak meluas dan terus berkembang, menembusi sempadan geografi, ekonomi, dan sosial. Tidak akan berundur.Tambahan pula, kemudahan ini amat mesra pengguna pada hari ini. Kegiatan menyiarkan puisi di alam siber juga sedang berlaku dengan secara pesat. Pengkarya juga memasukkan inovasi baru yang memanfaatkan teknologi berkaitan. Kita harus bersama ke hadapan dalam membangunkan puisi berbahasa Melayu yang seiring dengan perkembangan teknologi hari ini agar puisi kita dapat dimanfaatkan secara keseluruhannya, bukan lagi berkembang di peringkat tempatan malahan merentas dunia global. Inilah cara untuk maju pada hari ini. Kita juga harus menyedari bahawa pengkarya alam siber beroperasi dalam dunia penerbitan yang berbeza dengan dunia penerbitan konvensional, dengan hukum-hukum alamnya yang tersendiri. Kita perlu memberhentikan tabiat membanding-bandingkan karya konvensional dengan e-karya kerana kedua-dua genre tersebut mempunyai keistimewaannya yang tersendiri.

 

 

APENDIKS: Dua Karya Pilihan dari E-Sastera.com

 

  • Sajak “Angin, Ombak, dan Pantai” karya Azmi Rahman

Sajak bertajuk “Angin, Ombak, dan Pantai” menarik kerana disertai imej-imej yang sangat menarik.Imei-imej mempunyai peranan tersendiri.Imej angin, ombak, dan pantai itu tidaklah kaku sebaliknya bergerak-gerak memenuhi ciri elemen multimedia. Pembaca akan tertarik untuk menghayati sajak itu disebabkan adanya imej yang menarik sesuai dengan mesej yang ingin disampaikan dalam sajak tersebut. Hal ini menjadikan sajak yang dihasilkan itu tampak lebih ‘hidup’.Bagi menambah lagi keindahan pada sajak tersebut, pengkarya perlu menambahkan audio atau muzik bagi membolehkan pembaca lebih menghayati dan menikmati karya itu.

 

 

  • Sajak “Gelap” karya Irwan Abu Bakar

Sajak ini berbeza dengan sajak biasa kerana, apabila dibuka, ia memaparkan suatu kotak persegi yang hitam dengan audio yang menyeramkan. Apabila “disuluh” (highlight), akan keluar teks yang dapat dibaca pelayar untuk mengikuti pemikiran dan emosi pengkarya. Di samping itu, karya ini menyertakan hiperlink di hujungnya untuk pembaca yang mahu membaca versi lucu bagi sajak ini.

 

 (Kertas kerja ini telah dibentangkan di program Hari Puisi Nasional XIX anjuran GAPENA di Pulau Pinang)

 

 

WAB/9.05.2013

 

 

 

Laporan Program “Titian Sastera eSastera Ke Jogja” (8-11 Ogos 2014)

Nama Program: Titian Sastera E-Sastera Ke Yogyakarta
Pemilik Program: Persatuan Aktivis eSastera Malaysia (E-SASTERA)
Pemilik Bersama: Global Community Service (GLOCOSE) Breakthrough To Yogyakarta, Universiti Malaya, Kuala Lumpur
Pengurus Acara: Esastera Enterprise
Pengurus Tempatan Di Indonesia: E Sastera Management Enterprise (eSMe), Jakarta
Penaja (di pihak E-SASTERA): DBP dan ITBM
Lambang:

Jogja-2014-tShirt

PESERTA:

Rombongan disertai 25 orang yang terdiri daripada dua golongan, seperti yang berikut:

(A) Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA): 11 orang.
(B) Global Community Service (GLOCOSE) Breakthrough To Yogyakarta, Universiti Malaya: 14 orang.

jogja-2014-peserta

Nama para peserta diberikan dalam Lampiran 1.

PROGRAM:

Selama empat hari tiga malam di Jogjakarta, para peserta telah mengikuti program-program yang berikut:

(A) Lawatan Akademik
(B) Pertemuan dan persembahan bersama-sama dengan sasterawan tempatan
(C) Pelancaran empat judul buku penulis Malaysia
(D) Khidmat masyarakat
(E) Program wawancara dan persembahan di tivi dan radio tempatan
(F) Lawatan kreatif
(G) Publisiti di Media

Perincian program diberikan dalam Lampiran 2.

PUBLISITI:

Program ini telah mendapat liputan akhbar, portal berita, serta tivi dan radio tempatan.

Butir-butir liputan media diberikan dalam Lampiran 3.

———————————————————————————–

LMPIRAN 1: SENARAI PESERTA

(A) E-SASTERA

jogja-peserta-esastera

1. Irwan Abu Bakar
2. Hasimah Harun
3. Dinie Wan
4. Wan Ryzal
5. Ilya Kablam (Vokalis GLP)
6. Hijas (Vokalis GLP)
7. Teratai
8. Peton
9. Anbakri
10. Ana Suraya
11. Nimoiz T.Y

(B) GLOCOSE, UNIVERSITI MALAYA

jogja-peserta-glocose2

1. Prof. Madya Dr. Sabri bin Musa
2. Nur Aireen binti Shamsudin
3. Muhamad Haziq Ammar bin Hasim
4. Khairuddin bin Abdul Hamid
5. Ahmad Faiz Idzham bin Md Tahir
6. Ahmad Khairi bin Razali
7. Mohd Zulkarnain bin Parsin
8. Shazwan Affendy bin Abd Wahab
9. Fatin Rawiah binti Tuan Mazri
10. Nur Amalina binti Md Najib
11. Siti Nurul Azwanee binti Kon Spawi
12. Siti Nur Fareha binti Razali
13. Mohd Afiq bin Zaini Alamar
14. Sheikh Ahmad Asyraaf bin Sheikh Bahnan

 

LAMPIRAN 2: BUTIR-BUTIR PROGRAM

(A) Lawatan akademik

jogja-fakultas ilmu budaya

Program formal yang dilalui peserta rombongan di Jogjakarta ialah lawatan ke kampus Bulaksumur, Universitas Gajah Mada (UGM),   di Fakultas Ilmu Budaya serta di Pusat Kebudayaan), Jumaat 8 Ogos 2014. Di depan pintu Fakultas Sastra, Ketua Program Studi Magister Ilmu Sastra, Prof. Dr.Faruk Tripoli S.U sudah menanti, dan menyalami para peserta Titian Sastra eSastera.  Mas Faruk, begitu panggilan Prof. Dr. Faruk Tripoli bagi para sasterawan di Yogyakarta, memberi ruang bagi eSastera untuk berkunjung dan berdialog dengan pimpinan Fakultas Ilmu Budaya UGM.   Di bilik pertemuan, Prof. Faruk yang didampingi pimpinan Prodi Ilmu Sastra, Ma’ruf dan dua stafnya, menjelaskan tentang program berbagai hal terkait program studi Ilmu Sastra. Di acara itu juga diputar film karya para mahasiswa Ilmu Sastra, dilanjutkan dengan tanya jawab.

jogja-pusat kebudayaan

Usai pertemuan yang memakan waktu sekitar 30 minit itu, peserta telah diiring Prof. Faruk untuk ke Pusat Kebudayaan Koesnadi untuk perbincangan selanjutnya dan melihat beberapa bahan pameran.

(B) Pertemuan dan persembahan bersama-sama dengan sasterawan tempatan

Dua program perbincangan dan persembahan telah diadakan.

Pertama di Rumah Budaya Tembi  Ogos 2014. Pertemuan makan malam antara peserta program dengan para sasterawan tempatan yang melibatkan interaksi antara para hadiran serta persembahan puisi secara bergilir-gilir antara kedua-dua pihak. Turut hadir ialah penyair terkenal tempatan, Evi Idawati.
jogja-tembi
Kedua ialah pertemuan di SMPN 4 Sukoharjo, Jawa Tengah pada 9 Ogos 2014. Berwisata tak hanya ke pantai atau membeli-belah. eSastera Malaysia bertemu para guru dan siswa di SMPN 4 Sukoharjo untuk berkongsi pengalaman dan mengukuhkan persabatan dua bangsa serumpun. Program ini meibatkan perbincangan antara pentadbir sekolah SMPN 4 dengan semua peserta, diikuti persembahan pentas oleh para guru dan siswa SMPN 4 dan peserta lawatan.  Majlis diakhir dengan majlis makan tengah hari yang disediakan oleh tuan rumah.
jogja-sukoharjo
(C) Pelancaran empat judul buku penulis Malaysia
jogja-pelancaran buku1
Di Rumah Budaya Tembi, pada 8 Ogos 2014 malam, selesai majlis interaksi dan persembahan puisi, empat buah buku yang berikut telah dilancarkan dengan penyerahan naskah buku-buku yang berkenaan oleh Prof. Irwan Abu Bakar, Presiden E-SASTERA, kepada mas Ons Untoro, pemilik Restoran Tembi yang merupakan seorang aktivis sastera tempatan:
  • Irwan Abu Bakar. Novel Meja 17 versi Indonesia (Jakarta: E Sastra Management Enterprise, 2014).
  • Nimoiz T.Y. Kumpulan puisi Republik Korupsi (Jakarta: E Sastra Management Enterprise, 2014).
  • Puzi Hadi. Kumpulan esei Aktivis dan Aktivitas E-Sastra Malaysia (Jakarta: E Sastra Management Enterprise, 2014).
  • Anbakri. Kumpulan puisi Asap Api Di Mataku. (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2014).

Di samping itu, pihak Tembi Restoran telah menerbitkan dan menagihkan sebuah buku antologi pusi tulisan penyair Malaysia dan Jogjakarta yang disusun khas untuk acara tersebut, iaitu antologi puisi Pertemuan Penyair Malaysia-Yogya.

(D) Khidmat masyarakat

jogja-khidmat masyarakat-1

Peserta program telah melaksanakan kerja khidmat masyarakat di surau SMPN 4, Sukoharjo pada Sabtu 9 Ogos 2014.  Aktiviti melibatkan pembersihan kawasan dalam dan sekitar halaman surau.  Rombongan juga telah menyampaikan cendera hati berupa sejadah dan telekung kepada pengurusan surau.

(E) Program wawancara dan persembahan di tivi dan radio tempatan

Program “Tamu Istimewa” Adi TV, Yogyakarta (Selasa 10 Ogos 2014).  Lelah itu masih menyergap dari Merapi, ketika eSastera tiba di studio Adi TV, petang Ahad 9/8/2014. Secangkir teh hangat, pisang, kacang dan ubi rebus sejenak mengusir kantuk. Lelah kembali tiba saat menanti shooting yang terlambat. Irwan Abu Bakar, Dinie Wan, Evi Idawati, dan Yo Sugianto menjadi tamu wawancara. Semangat mengalahkan segala penat. Penampilan eSastera itu ditayangkan pada Selasa 12/8/2014 di Adi TV dalam program “Tamu IStimewa”.
jogja-tivi2

“Bincang-bincang” di RRI Yogyakarta.  Ketika sebahagian besar peserta sedang menikmati keraton Yogyakarta, pada pagi Isnin 11/8/2014, beberapa orang antarnya terpaksa bergegas ke studio Pro 2 FM Radio Republik INfdonesia (RRI), Kota Baru, Yogyakarta. Mereka ialah Irwan Abu Bakar, Nik Mohd Iznan, Ilya Kablam, Anbakri Haron, Mohd Hijasri Bin Hassim, dan Yo Sugianto.  Mereka telah tampil dalam acara “Bincang-bincang” bersama Lulu, berbicara tentang eSastera dan kerjasama mendatang dengan sasterawan Indonesia. 

jogja-rri

(F) Lawatan kreatif

Ke Solo, menikmati keindahan kota dan ke pusat batik, Sabtu 9 Ogos 2014.

Ke candi Prambanan, Sabtu 9 Ogos 2014.  Menonton persembahan dramatari “Hanoman Obong” di pentas terbuka Prambanan“Hanoman Obong” berkisah Hanoman, kera berbulu putih, putera Dewa Bayu yang membawa cincin Rama untuk disampaikan ke Dewi Sinta. Hanoman membakar taman di kerajaan Alengkaraja, tempat Rahwana bertahta.

jogja-prambanan-eSastera

Ke candi Borobudur, Jogjakarta, Ahad 10 Ogos 2014. Salah seorang peserta eSastera berbisik “Akhirnya tiba juga di Borobudur yang hanya saya baca di buku di sekolah”. Ia berkata saat bus tiba di Candi Borobudur, Sabtu 10 Ogos 2014 yang cerah. Dari Borobudur eSastera ke toko pertukangan perak dan makan tengah hari.

jogja-borobudur-ryzal-khairi

Petualangan di Merapi, Ahad 10 Ogos 2014. Perjalanan yang tak terbayangkan tapi akan selalu dikenang. Dengan jeep berisi 4 orang, melewati jalan yang tak rata, berlopak-lopak, dan bercerun. Kenangan yang membekas dalam dari lawatan ke Gunung Merapi.

jogja-merapi1

Pada pagi Isnin 11 Ogos 2014, ke Kraton Yogyakarta (atau Istana Jogjakarta). Nama lengkapnya ialah Kraton Ngayogyakarta Hadiningraf. Kawasan ini ialah tempat tinggal raja Jogjakarta (atau Sultan Hamengku Buwono, kini Sultan Hamengku Buwono X). Para peserta melawat seluruh kawasan istana dan melihat paparan ala paparan museum tentang budaya Jawa di dalam bangunan dan halaman istana itu.

jogja-keraton1

LAMPIRAN 3: PUBLISITI DI MEDIA

Program “Titian eSastera” ini telah mendapat liputan media yang meluas sebelum dan sesudah program dijalankan.  Media merangkumi akhbar, portal berita, radio, dan tivi. Antaranya seperti yang berikut:

Wawancara tivi Metro.
Akhbar Harian Tribun, Jogjakarta, 8 Ogos 2014.

jogja-Harian Tribun
Akhbar Harian Jogja, 8 Ogos 2014

Jogja-Harian-Jogja

Akhbar Kedaulatan Rakyat, 8 Ogos 2014

jogja-kedaulatan-rakyat

Akhbar Harian Solo Pos, 11 Ogos 2014

jogja-harianSolo-882014

Portal berita 1:

http://tembi.net/bale-karya-pertunjukan-seni/sastrawan-malaysia-wisata-satra-di-tembi

Portal berita 2:

http://www.timlo.net/baca/68719563633/esme-kolaborasikan-karya-sastra-indonesia-malaysia/

Portal berita 3:

http://www.timlo.net/baca/68719563623/sastrawan-malaysia-lawatan-ke-sukoharjo/

Disediakan oleh:

Persatuan Aktivis e-Sastera Malaysia (E-SASTERA)

Selamat Datang Ke Aktivis eSastera

Portal ini ialah portal Persatuan Aktivis e-Sastera Malaysia (E-SASTERA) di WordPress. Ia memaparkan butir-butir asas mengenai E-SASTERA (di bahagian “Pages”) dan laporan tentang kegiatan-kegiatan E-SASTERA (di bahagian “Posts”).

Sila rujuk Page +Kandungan untuk melihat senarai kandungan PAGES dan POSTS bagi portal ini.